himafi-unm.org -Pada Minggu, 6 September 2026, telah dilaksanakan kegiatan Presentasi Buku yang menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi wawasan, gagasan, serta pembelajaran yang diperoleh dari berbagai buku. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada isi buku, tetapi juga menghubungkan setiap gagasan dengan kehidupan mahasiswa dan dinamika organisasi.
Dalam kegiatan ini, enam presenter membawakan buku dengan tema yang beragam, mulai dari memahami manusia, membangun komunikasi, meningkatkan kemampuan public speaking, hingga mengembangkan pola pikir kreatif.
Memahami Manusia Sebelum Menilai
Presenter pertama membawakan buku Sisi Gelap Surga karya Brien Krisna. Buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut yang sering luput dari perhatian. Di balik gemerlap kehidupan yang terlihat dari luar, terdapat cerita, perjuangan, dan alasan yang tidak selalu diketahui oleh orang lain.
Pembahasan kemudian dikaitkan dengan kehidupan organisasi yang pada dasarnya juga merupakan ruang yang diisi oleh manusia dengan berbagai karakter, cara berpikir, kemampuan, dan pendapat yang berbeda. Karena itu, dalam sebuah kepengurusan, penting untuk memahami sebelum menilai.
Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan mendengarkan, memahami latar belakang seseorang, serta tidak terburu-buru memberikan penilaian hanya berdasarkan apa yang terlihat. Dari pembahasan ini juga muncul diskusi mengenai Jakarta sebagai gambaran “surga” dalam buku serta bagaimana pesan yang terdapat dalam buku dapat diterapkan dalam kehidupan organisasi.
Seni Berhubungan dengan Orang Lain

Komunikasi yang baik juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan untuk mendengarkan. Oleh karena itu, penerapannya dalam organisasi dapat dilakukan melalui sikap saling menghargai, menjadi pendengar yang baik, membangun komunikasi yang efektif, menghargai kontribusi, mengelola perbedaan pendapat, dan membangun hubungan yang sehat antaranggota.
Salah satu contoh yang dibahas adalah ketika seorang anggota beberapa kali terlambat menghadiri rapat atau tidak menyelesaikan tugas. Alih-alih langsung memberikan penilaian, diperlukan upaya untuk memahami kondisi dan penyebabnya terlebih dahulu, kemudian mencari solusi bersama.
Pesan utama yang disampaikan adalah: pahami sebelum menilai, dengarkan sebelum menyerah, hargai sebelum menuntut, apresiasi sebelum mengkritik, dan cari solusi, bukan sekadar mencari kesalahan.
Berani Berbicara di Depan Umum
Presenter ketiga membawakan buku Cara Mudah dan Praktis Belajar Public Speaking. Pembahasan berfokus pada kemampuan berbicara di depan umum yang menjadi salah satu keterampilan penting bagi mahasiswa maupun anggota organisasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam public speaking adalah mengenali audiens, menyusun materi secara terstruktur, menguasai poin utama, menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal, serta mengatur suara, intonasi, dan tempo. Selain itu, latihan secara konsisten menjadi bagian penting untuk mengurangi rasa gugup.
Kemampuan public speaking memiliki relevansi yang besar dalam kehidupan mahasiswa, khususnya ketika melakukan presentasi, memimpin diskusi, menyampaikan pendapat, maupun menjalankan tanggung jawab organisasi. Seperti kutipan yang disampaikan dalam presentasi, “Jalur menuju sukses, baik sosial maupun profesional dilalui lewat berbicara.”
Pada akhirnya, public speaking bukanlah kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang tertentu. Kemampuan tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui persiapan, latihan, dan kepercayaan diri.
Strategi Komunikasi di Era Baru
Presenter keempat membahas buku Era Baru Strategi Komunikasi Sektor Publik karya Eri Hariyanto. Pembahasan memperkenalkan tiga pilar Open Government Indonesia (OGI), yaitu transparansi, partisipasi, dan inovasi.
Komunikasi dipahami sebagai proses menyampaikan pesan sehingga makna yang diterima dapat dipahami dengan baik oleh penerima. Dengan demikian, komunikasi efektif bukan hanya ketika pesan telah disampaikan, tetapi ketika pesan tersebut benar-benar dipahami dan dapat ditindaklanjuti.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi dan era Internet of Things (IoT), organisasi publik juga dituntut untuk mampu beradaptasi. Strategi komunikasi perlu memastikan bahwa informasi dapat disampaikan dengan cepat, terbuka, jelas, dan tidak menimbulkan kontradiksi.
Pola komunikasi multi-step flow yang dibahas meliputi tosecure understanding, to establish acceptance, dan to motivate action.
Dalam konteks organisasi mahasiswa, pembahasan ini juga relevan dengan peran bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS), terutama sebagai penghubung antara HMJ dengan sivitas akademika, menyampaikan informasi organisasi, serta mengelola citra organisasi.
Berpikir Out of The Box
Presenter kelima membahas buku Pola Pikir Out of The Box. Out of the box merupakan cara berpikir yang berusaha keluar dari kebiasaan atau batasan lama untuk melihat suatu permasalahan dari sudut pandang baru dan menemukan kemungkinan solusi yang berbeda.
Dalam organisasi, pola pikir ini dapat diterapkan ketika menghadapi berbagai persoalan, seperti program kerja yang kurang berjalan, komunikasi yang tidak efektif, maupun program kerja yang belum memiliki kebaruan.
Untuk membangun pola pikir out of the box, seseorang perlu melihat masalah sebagai tantangan dan berani melewati batas kebiasaan. Hal tersebut membutuhkan mental thinker, yaitu pola mental yang tidak takut dianggap berbeda, berani mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.
Proses brainstorming juga menjadi salah satu cara untuk membangun kreativitas dalam menemukan solusi. Sikap terbuka, kreatif, inovatif, dan berani mencoba menjadi bagian penting dalam membangun budaya berpikir terbuka di dalam organisasi.
Jangan Takut untuk Berbicara
Presenter keenam membawakan buku Jangan Takut Ngomong: Strategi Agar Berani Bicara di Depan Umum. Berbeda dari pembahasan public speaking pada umumnya, buku ini mengajak seseorang untuk terlebih dahulu memahami sumber ketakutan sebelum berusaha mengatasinya.
Rasa gugup dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa tipe yang dibahas adalah antisipator, adrenalis, improvisivator, dan penghindar. Ketakutan dalam berbicara di depan umum juga dapat berasal dari kekhawatiran akan kritik, lupa materi, merasa malu, maupun takut mengalami kegagalan.
Karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali hambatan dan memahami bagian mana yang masih dapat diperbaiki. Proses latihan dapat dilakukan melalui empat tahap, yaitu menemukan dan mengakui, melepaskan, menyusun ulang, serta melakukan visualisasi dan mewujudkannya.
Selain kesiapan mental, kemampuan berbicara juga berkaitan dengan aspek fisik. Beberapa hal yang perlu dilatih antara lain keseimbangan tubuh, kontrol pernapasan, posisi dan gerakan tangan, gerakan mata, serta kemampuan mengeluarkan vokal dengan baik.
Penutup
Keenam presentasi tersebut menunjukkan bahwa membaca buku tidak berhenti pada memahami isi dan cerita, tetapi dapat menjadi sarana untuk melihat kembali cara kita berinteraksi dengan orang lain dan menjalankan kehidupan organisasi.
Mulai dari memahami manusia sebelum menilai, menghargai dan mendengarkan orang lain, berani berkomunikasi, membangun strategi komunikasi yang efektif, berpikir terbuka, hingga berani berbicara di depan umum, seluruh pembahasan memiliki keterkaitan dengan kehidupan mahasiswa dan organisasi.
Melalui kegiatan Presentasi Buku ini, diharapkan peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru dari berbagai bacaan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menjalankan peran di organisasi.





.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar