himafi-unm.org -Konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya menjadi perhatian dari sisi politik dan keamanan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berperan dalam sistem pertahanan modern. Salah satu teknologi yang menarik untuk dikaji dari perspektif fisika adalah rudal.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam konten FIBER yang dibawakan oleh Derwansyah, Staff Bidang II Keilmuan HMJ Fisika FMIPA UNM Periode 2025–2026. Melalui pembahasan tersebut, Derwansyah mengajak pembaca melihat bahwa di balik teknologi rudal terdapat berbagai konsep fisika yang dipelajari dalam perkuliahan.
“Lantas, apa hubungannya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dengan fisika?” menjadi pertanyaan pembuka yang mengantarkan pembahasan.
Menurut Derwansyah, rudal merupakan salah satu contoh teknologi yang memanfaatkan prinsip-prinsip fisika secara kompleks. Dalam pembahasannya, terdapat tiga konsep utama yang dapat digunakan untuk memahami pergerakan teknologi tersebut, yakni Hukum III Newton, aerodinamika, serta gerak balistik dan perencanaan lintasan.
Hukum III Newton dan Gaya Dorong
Konsep pertama yang dibahas adalah Hukum III Newton, yang menyatakan bahwa setiap aksi akan menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.
Prinsip tersebut dapat ditemukan pada sistem propulsi roket. Ketika mesin menghasilkan gas bertekanan tinggi yang kemudian dikeluarkan ke arah belakang dengan kecepatan tinggi, muncul gaya reaksi yang mendorong kendaraan ke arah berlawanan.
Gaya tersebut dikenal sebagai gaya dorong atau thrust. Dengan prinsip inilah sebuah kendaraan roket dapat memperoleh dorongan untuk bergerak.
Ketika bergerak melalui atmosfer, sebuah benda tidak hanya dipengaruhi oleh gaya dorong, tetapi juga harus menghadapi hambatan udara.
Hambatan tersebut dikenal sebagai drag force atau gaya hambat udara. Gaya ini bekerja berlawanan dengan arah gerak dan dapat memengaruhi kecepatan, efisiensi, serta kestabilan benda yang bergerak di atmosfer.
Oleh karena itu, perancangan kendaraan berkecepatan tinggi membutuhkan pertimbangan aerodinamika. Bentuk dan permukaan kendaraan dirancang dengan mempertimbangkan bagaimana udara mengalir di sekitarnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bentuk suatu teknologi tidak hanya berkaitan dengan desain, tetapi juga dengan prinsip fisika yang bekerja di dalamnya.
Konsep berikutnya adalah gerak balistik. Setelah memperoleh kecepatan awal, suatu benda yang bergerak di bawah pengaruh gravitasi dapat mengikuti lintasan tertentu. Dalam kondisi ideal, gerak tersebut dapat dimodelkan menggunakan konsep gerak parabola.
Namun, kondisi sebenarnya jauh lebih kompleks. Hambatan udara, gravitasi, kondisi lingkungan, serta berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi pergerakan.
Dalam teknologi modern, sistem navigasi dan sensor digunakan untuk mengetahui posisi serta arah gerak secara terus-menerus. Berbagai perhitungan fisika dan matematika kemudian digunakan untuk memahami dan memodelkan lintasan benda.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa fisika tidak hanya hadir dalam bentuk rumus dan teori di ruang kelas. Berbagai prinsip fisika menjadi dasar dalam perkembangan teknologi modern, termasuk teknologi penerbangan, navigasi, energi, dan sistem pertahanan.
Melalui konten FIBER, Darwansyah mengajak mahasiswa untuk melihat fisika dari sudut pandang yang lebih luas. Peristiwa yang terjadi di dunia dapat menjadi ruang untuk memahami bagaimana konsep-konsep fisika diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, mempelajari fisika bukan sekadar memahami persamaan dan menyelesaikan soal, tetapi juga memahami bagaimana hukum-hukum alam dapat dimanfaatkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Jadi, kenapa kita perlu belajar fisika?” Karena di balik berbagai teknologi yang kita temui saat ini, terdapat konsep-konsep fisika yang bekerja dengan sangat kompleks dan presisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar